LAMPUNG - PALEMBANG, BERITAPENYIDIK.COM — Pukul 02.15 dini hari di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Jalur Lintas Timur. Deretan puluhan truk tronton bertonase berat (Over Dimension Over Load/ODOL) tampak mengantre panjang. Namun alih-alih dinaikkan ke timbangan digital untuk ditimbang bobot gandengannya, para sopir tampak hanya berjalan cepat menghampiri loket pos jaga kecil di tepi jalur.
Reporter BeritaPenyidik.com yang menyamar sebagai kernet truk pengangkut pupuk mengabadikan momen transaksi kilat: selembar uang pecahan seratus ribu rupiah diselipkan ke dalam buku uji kir, petugas loket menstempel dokumen tanpa menoleh ke layar monitor timbangan, dan palang pintu seketika terangkat.
Hitung-Hitungan 'Bisnis Gelap' di Jalur Aspal Rusak
Berdasarkan pencatatan tim investigasi selama 72 jam pemantauan terus-menerus di dua titik jembatan timbang strategis:
- Sedikitnya 800 hingga 1.200 truk bertonase lebih dari 30 ton melintas setiap malamnya. Dengan rata-rata setoran informal Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per truk, omzet pungutan liar di satu pos mencapai Rp 60 juta hingga Rp 120 juta per malam.
- Sopir yang menolak membayar akan ditahan berjam-jam dengan alasan pemeriksaan teknis bertele-tele, membuat muatan sayur dan komoditas pangan mereka terancam busuk di jalan.
- Dampak sistemiknya sangat dahsyat: jalan nasional yang baru diaspal dengan anggaran triliunan rupiah ambles dan berlubang parah hanya dalam hitungan bulan, memicu kecelakaan maut beruntun bagi kendaraan pribadi.
Kementerian Perhubungan merespons temuan bukti rekaman video ini dengan menarik seluruh personel piket untuk diperiksa oleh Inspektorat Jenderal dan menerapkan digitalisasi timbangan otomatis berbasis WIM (Weigh-in-Motion).