JAKARTA, BERITAPENYIDIK.COM — Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta Interpol berhasil melumpuhkan infrastruktur Command and Control (C2) dari varian ransomware berbahaya berjuluk 'BlackByte v3' yang beroperasi secara terdesentralisasi di sejumlah negara Asia Tenggara dan Eropa Timur.
Operasi senyap yang berlangsung selama 45 hari ini bermula dari laporan insiden anomali lalu lintas data jaringan pada salah satu konsorsium rumah sakit swasta nasional dan lembaga pembiayaan mikro. Pelaku diketahui menyusup melalui celah kerentanan RCE (Remote Code Execution) pada Virtual Private Network (VPN) gateway yang belum diperbarui (unpatched).
Modus Operandi: Double Extortion dan Eksfiltrasi Data
Kepala Subdirektorat Digital Forensik Dittipidsiber memaparkan bahwa kelompok BlackByte menerapkan taktik double extortion (pemerasan ganda). Selain mengenkripsi seluruh file database operasional menggunakan algoritma AES-256 dan RSA-4096, sindikat ini terlebih dahulu mengeksfiltrasi data rahasia rekam medis pasien serta log transaksi nasabah sebesar 180 gigabyte.
"Kelompok ini menuntut tebusan senilai 1,2 juta dolar AS dalam bentuk mata uang kripto Monero (XMR) yang sulit dilacak. Jika korban menolak membayar dalam tempo 72 jam, mereka mengancam akan mempublikasikan data sensitif tersebut di forum dark web breach leak," ungkap pejabat berwenang dalam konferensi pers di Mabes Polri.
Penyitaan Aset Server dan Rekomendasi Mitigasi
Melalui koordinasi Mutual Legal Assistance (MLA) lintas yurisdiksi, tim berhasil menyita tiga dedicated server proksi di luar negeri dan mengamankan private key dekripsi untuk membantu korban memulihkan file yang terkunci tanpa harus menyerahkan uang tebusan kepada penjahat siber.
- Pemberlakuan Zero Trust Architecture: BSSN mengimbau seluruh pengelola Infrastruktur Informasi Vital (IIV) menerapkan prinsip verifikasi berkelanjutan pada setiap akses kredensial.
- Patching & Multi-Factor Authentication: Wajib menutup akses port remote yang tidak terenkripsi serta memberlakukan otentikasi berbasis token FIDO2/biometrik.
- Segmentasi Jaringan Cadangan: Backup offline yang terisolasi secara mutlak (air-gapped) untuk mengantisipasi enkripsi lateral saat sistem utama terinfeksi.